Announcer 95.3 FM @PRO2SMG
@paramita_os
I love music, singing, playing games (especially adventure games), and writing..
I'm loyal, don't like pretending, sometimes fierce, independent (you can judge me if you meet me)
And the last but not least, I wanna grow up well :)
My name is SAKTI
Jam 4 pagi bangun, next langsung mandi, langsung berangkat ke studio dan SIARAN. Emang sih, siarannya baru jam 5, tapi masbro mbakbro, suara saya kalo pagi serak dan lama buat jernihnya. Ya beginilah tuntutan seorang announcer yang dapet jam siaran pagi. Di awal emang sih saya tau kalo paling males itu siaran pagi, dan paling menyenangkan itu siaran malem (versi saya sih). Tapi pertanyaannya, kenapa saya punya keinginan untuk jadi announcer?
Satu, enaknya pasti update sama lagu-lagu terbaru, apalagi dengan hobi yang suka nyengnyong dan bermusik, laaahh orang bilang udah cucok banget dah. Saya bilang kayak gini karena udah pernah punya pengalaman nggak enak sama yang namanya update lagu baru. Kalo cuma setiap saat dengerin radio, emang sih bisa hapal lagunya, tapi nggak tau judulnya itu loh. Pernah suatu saat pas lagi nyanyi atau pengen menyumbangkan suara emas (istilahnya kalo pas lagi ada nikahan terus kita pengen nyumbang lagu, hahaha..) eh saya nggak tahu judul lagunya dan asal nyebut salah satu bagian reffrain, udah gitu mungkin bagi pemain musiknya saya adalah seorang yang sangat keras kepala dan salah. Gimana mau nggak malu? Tahu gitu daripada ngotot nyebutin judul lagu yang jelas salah, mending saya nyanyiin contoh reffrainnya kan? hahahaa… ada satu lagi nih, waktu lagi nyanyi di suatu tempat, ada orang lain request lagu. Dan dia bilang gini sama saya “mbak, saya request lagu terbarunya Sharukh Khan donk”, seketika itu juga saya terkesima sama bapaknya. Emang saya penyanyi India pak? hahaha.. Akhirnya saya dan pemain musik menawarkan beberapa lagu dari Sharukh Khan seperti Chaya-Chaya dan dia bilang bukan. Trus Koi Mil Gaya, Kuch-Kuch Hota Hai, dan beberapa lagu India lainnya. Finally dia ngeliatin saya dan bilang “mbak, saya minta lagunya Sharukh Khan yang TERBARU”, saya jawab “Maaf pak, saya nggak tahu, ,mungkin lagu yang lain aja” dan akhirnya bapaknya tetep nyolot aja, agrhgrhgrhghrrrrr.. pengen rasanya jitak bapaknya. Dan dia nyeletuk, “mbak kayaknya masih muda kok nggak tahu sih lagunya, itu kan lagu galau mbak”. Saya diem, pemain musik diem, kita lirik-lirikan penuh isyarat, dan akhirnya ketawa. Saya bilang sama bapaknya, “pak, lagunya kayak gini? ~~ ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum~~~~ Bapaknya jawab, “Iyaa mbak, itu lagunya”. Seketika itu juga saya berasa malu sendiri. Coba saya jadi bapaknya, mungkin saya akan langsung nyanyiin reffrainnya. Jangan malah bilang lagunya Sharukh Khan padahal ternyata lagunya CAKRA Khan, satu kata buat saya “MALU”, yang dengerin aja malu, apalagi yang ngucapin.
Yang kedua adalah improving my skill. Jadi seorang penyiar itu secara tidak langsung bikin saya harus banyak ngomong, syarat bisa banyak ngomong adalah banyak tahu tentang informasi dan berita terbaru, syarat untuk banyak tahu adalah dengan salah satunya MEMBACA. Mau suka maupun nggak suka tetep harus baca. Istilahnya seperti diperkosa. Sebenernya nggak suka, tapi HARUS. Ini sebenernya bikin bete, bahkan teramat sangat bete. Materi siaran paling nggak saya suka adalah yang berbau politik. Entah kenapa ketika harus siaran pagi dan bertemu dengan bau-bau politik, bikin saya roaming dan berasa lagi ada di Planet Mars (salah satu alasan males siaran pagi). Nah biasanya, kalau siaran pagi itu ada pasangannya nih mbakbro masbro sekalian. Pernah ada satu pengalaman, ketika harus interview dengan salah satu narasumber, tapi namanya bau politik itu bikin saya males banget, dan otak tiba-tiba langsung hang. Sepanjang interview selama kurang lebih 20 menit, saya hanya bisa diam terpaku menatap mic yang katanya harganya selangit itu dan mengelus-elus headphone yang katanya harganya sama kayak 1 unit motor. Mungkin kalo ada yang ngerekam video, saya bisa dikata mirip sama orang kesurupan atau malah emang kesurupan beneran, hahahaha.. Beneran deh, males banget. Tapi sebagai penyiar dituntut keprofesionalannya nih. Mau nggak mau, tetep harus baca info dan berita yang berbau politik biar bisa ngomong. Ini adalah salah satu metode yang bisa saya bilang metode diperkosa. Tapi ini berhasil kok buat improving my skill, jadi bisa tambah luas wawasannya dan tambah pinter ngomong donk ^^
Yang ketiga adalah tambah relasi. Iya nih bener banget. Tapi, saya masih males nulis. Next time mungkin ya :|
Malam adalah sebuah waktu dimana aku harus berhenti mencintaimu.
Ini terlalu sulit bagiku, untuk melihatmu bersinar, dengan jarak jutaan tahun cahaya.
Terlalu sakit, karena aku hanya bertopang dagu, membelalakkan mata.
Tanganku hanya bisa mencoba menggapai, tanpa bisa meraihmu.
Hembusan nafas terasa berat, mengedipkan mata pun terlalu perih.
Kerinduan jemariku untuk membelai lembutnya kulit pipimu.
Aku merasa seperti ikan!
Ikan yang dikeluarkan dari akuarium, yang separuh nyawanya hilang!
Mulutpun menganga terlalu lebar, tanpa bisa menarik nafas.
Kau, bukan hanya sekedar bintang, Kau lebih dari bintang.
Keindahanmu terlalu sakit untuk kunikmati.
Kesaktianmu terlalu besar untuk kucintai.
Tapi kebodohan seorang insan yang lemah, mengikatku untuk tetap begini.
Aku bodoh, dan mungkin terlalu bodoh.
Apakah harus aku mati untuk sebuah keindahanmu?
Keindahan ciptaan Sang Gusti…..
Tiada duanya, tiada taranya…







